Pertanyaan klasik di grup profesional akuntansi dan HR: “Sertifikasi Brevet Pajak A/B online ini worth it atau cuma buang uang?” Anda tidak sendirian. Banyak profesional bingung membedakan antara program yang benar-benar membangun kompetensi dengan yang sekadar jualan sertifikat. Mari kita bedah realitanya.
Apa Itu Brevet Pajak A/B dan Kenapa Masih Dibutuhkan?
Brevet Pajak adalah sertifikasi resmi dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang mengakreditasi seseorang untuk melakukan praktik perpajakan. Brevet A fokus pada perhitungan dan pelaporan pajak perorangan, sementara Brevet B menangani badan usaha. Di era digital ini, kebutuhan akan konsultan pajak yang compliant justru melonjak, bukan menurun.
Perusahaan semakin kritis dalam memilih konsultan. Mereka tidak sekadar melihat sertifikat, tapi mempertanyakan kemampuan menangani SPT kompleks dan konsultasi real-time. Inilah mengapa kualitas materi jadi penentu, bukan hanya gelar.
Kualitas Materi: Ekspektasi vs Realita Kelas Online
Mayoritas program online menjanjikan fleksibilitas. Namun, fleksibilitas sering kali datang dengan kompromi. Materi yang sama dengan kelas offline tidak otomatis menghasilkan pemahaman yang sama. Faktor kunci terletak pada depth of content dan ketersediaan simulasi kasus.
Program berkualitas tinggi biasanya menyertakan:
- Case study real dari klien KAP atau konsultan pajak
- Update regulasi real-time minimal kuartalan
- Sesi konsultasi langsung dengan instruktur praktisi (bukan hanya teori)
- Bank soal dengan tingkat kesulitan yang mencerminkan ujian sebenarnya
Red flag yang harus diwaspadai: materi yang tidak pernah diupdate sejak UU HPP 2021, instruktur tanpa portofolio praktik lapangan, dan janji “jaminan lulus” tanpa syarat.

Tingkat Kelulusan: Data Nyata dan Faktor Penentu
Mitosnya: “Ujian brevet online lebih mudah.” Realitanya? Tingkat kelulusan justru lebih rendah 10-15% dibandingkan kelas offline intensif. Data internal dari tiga provider besar menunjukkan rata-rata kelulusan Brevet A di kisaran 58-65%, sementara Brevet B hanya 42-48%.
Mengapa? Karena disiplin diri peserta online sering kali menurun. Tidak ada tekanan teman sekelas. Tidak ada instruktur yang melihat Anda mengantuk. Ujian DJP sendiri tidak membedakan jalur belajar; soalnya sama kerasnya.
Faktor Penentu Lulus
Jam belajar efektif adalah prediktor utama. Alumni yang lulus rata-rata menghabiskan 80-100 jam untuk Brevet A dan 120-150 jam untuk Brevet B. Ini termasuk mengerjakan minimal 5 set simulasi ujian penuh.
Provider yang bagus akan memberikan learning analytics: tracking progress, weak area analysis, dan personal coaching untuk peserta yang stuck di modul tertentu.
Analisis Provider: Mana yang Worth It?
Pasar brevet online Indonesia bisa dibagi tiga kategori:
1. Lembaga Akuntansi Besar (KAP Ternama)
Mereka menawarkan program hybrid online-offline. Kualitas materi superior karena langsung dari praktisi yang menangani KAP besar. Harganya premium: Rp 3-5 juta per level. Kelulusan? Bisa mencapai 70% untuk Brevet A karena seleksi peserta ketat dan support system kuat.
Kelemahan: jadwal tetap kaku, minim fleksibilitas untuk pekerja full-time. Cocok untuk yang butuh struktur keras.
2. Platform E-Learning Independen
Harga kompetitif: Rp 1-2 juta per level. Materi cukup komprehensif, tapi kualitas instruktur bervariasi. Beberapa platform hanya menyediakan video rekaman tanpa interaksi. Tingkat kelulusan di sini paling fluktuatif: 45-60% tergantung seberapa aktif peserta memanfaatkan grup diskusi.
Keunggulan: belajar kapan saja, lifetime access. Kelemahan: Anda benar-benar sendiri.
3. Provider “Cepat Lulus” Abal-Abal
Harga murah di bawah Rp 500 ribu, janji “soal bocoran” atau “jaminan lulus”. Hindari. DJP secara berkala mengupdate bank soal. Sertifikat dari provider ini tidak akan membantu karier; justru merusak kredibilitas.
| Kriteria | KAP Ternama | Platform E-Learning | Provider Abal-Abal |
|---|---|---|---|
| Harga | Rp 3-5 juta | Rp 1-2 juta | < Rp 500 ribu |
| Kelulusan | 65-70% | 45-60% | 20-30% (atau batal ujian) |
| Update Materi | Kuartalan | 6-12 bulan | Tidak pernah |
| Support | Personal coaching | Grup chat | Tidak ada |
Biaya, Waktu, dan ROI Realistis
Investasi total untuk Brevet A & B online berkualitas: Rp 4-7 juta (termasuk biaya ujian resmi DJP). Waktu: 4-6 bulan intensif. Apakah kembali modal?
Untuk akuntan junior, brevet bisa menaikkan gaji 15-25% dalam setahun. Untuk konsultan independen, brevet adalah ticket to entry. Tanpa itu, mustahil dapat klien korporat. ROI positif biasanya tercapai dalam 18-24 bulan pertama.
Tapi ingat: sertifikat tidak otomatis. Anda harus bisa demonstrasikan skill dalam wawancara atau konsultasi percobaan. Banyak HR yang sekarang tes praktik langsung.

Strategi Lulus: Tips dari Alumni
Tidak ada shortcut, tapi ada cara lebih efisien:
- Pilih provider berdasarkan track record, bukan harga. Cari testimoni spesifik: “lulus di percobaan pertama” lebih valid dari “materi lengkap”.
- Buat jadwal belajar non-negotiable. Treat it like a second job. 2 jam setiap malam, no excuses.
- Fokus pada SPT Tahunan, bukan hanya teori. 60% soal ujian adalah kasus SPT. Praktikkan dengan software e-Filing.
- Gabung komunitas belajar aktif. Diskusi kasus nyata dengan rekan lebih efektif daripada nonton video berulang kali.
- Kerjakan simulasi ujian dalam kondisi nyata. Timer, tanpa catatan, di ruangan tenang. Biasakan tekanan.
Verdict: Untuk Siapa Sertifikasi Ini?
Brevet Pajak online worth it jika Anda: memiliki disiplin diri tinggi, memilih provider premium, dan siap menginvestasikan waktu minimal 100 jam. Tidak worth it jika: mencari jalan pintas, hanya ikut-ikutan tren, atau berharap gaji otomatis naik 50% tanpa demonstrasi skill.
Rekruter modern, terutama di perusahaan multinasional dan KAP menengah ke atas, sudah pandai membedakan. Mereka akan tes kemampuan praktik, bukan sekadar lihat sertifikat di dinding. Brevet adalah alat, bukan tujuan. Gunakanlah dengan bijak.