Sebagai profesional yang pernah melihat lusinan CV berserakan di meja, saya sering mendapati pertanyaan yang sama: “Apakah CCNA masih layak dikejar, atau sudah jadi sertifikasi legasi?” Keraguan ini wajar. Dengan gelombang cloud, SDN, dan automasi yang menggempur dunia infrastruktur IT, banyak yang bertanya-tanya apakah fondasi jaringan tradisional masih punya tempat.
Kebenarannya? CCNA di 2025 bukan lagi tiket emas otomatis, tetapi juga bukan sekadar koleksi digital di LinkedIn. Nilainya sangat bergantung pada siapa yang menggunakannya dan bagaimana cara memakainya. Mari kita bedah bersama.
Kenapa Pertanyaan Relevansi CCNA Muncul?
Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Pada 2024, Cisco sendiri mengubah format CCNA 200-301, memasukkan lebih banyak topik tentang automation, programmability, dan cloud. Namun, stigma “sertifikasi untuk junior” dan “vendor-locked” masih melekat.
Data dari Global Knowledge Skills and Salary Report 2024 menunjukkan bahwa profesional dengan CCNA masih masuk dalam top 15 sertifikasi dengan rata-rata gaji USD 95,000+ secara global. Namun, pertumbuhan permintaan untuk skill multi-vendor dan cloud-native tumbuh 23% lebih cepat dibandingkan skill jaringan tradisional murni.

Dari Sudut Pandang Pembelajar: Skill Nyata vs. Materi Ujian
Jika Anda belajar CCNA dengan benar, bukan sekadar menghafal dump soal, Anda akan memperoleh fondasi yang sangat kuat. Ini bukan teori kosong.
Skill yang betul-betul Anda dapatkan:
- Memahami TCP/IP tidak sekadar “bisa ping”, tapi paham kenapa packet loss terjadi di layer mana
- Troubleshooting metodologis: dari OSI layer 1 fisik sampai layer 7 aplikasi
- Konsep subnetting yang otomatis, bukan pakai kalkulator online
- Pengenalan VLAN, STP, OSPF, NAT—konsep yang universal meski vendor berganti
- Dasar automation dengan Python dan Ansible untuk konfigurasi jaringan
Seorang network engineer di perusahaan e-commerce di Jakarta pernah bercerita: “CCNA membuat saya paham kenapa micro-segmentation di NSX tidak bekerja. Bukan karena NSX-nya, tapi karena VLAN trunking di bawahnya bermasalah.” Ini yang dimaksud fondasi.
Jebakan “Paper CCNA”
Di 2025, recruiter sudah sangat jeli. Mereka akan tanya: “Kalau port Gi0/1 di switch tidak up, langkah pertama apa?” atau “Jelaskan perbedaan OSPF broadcast vs point-to-point.” Kalau jawabannya ngambang, sertifikasi Anda dianggap paper-based dan nilainya nol besar.
Dari Sudut Pandang HR dan Hiring Manager: Apa yang Mereka Cari?
Saya pernah berdiskusi dengan head of IT infrastructure di perusahaan manufaktur multinasional. Kebijakan mereka: CCNA adalah filter, bukan penentu.
Bagaimana CCNA digunakan di proses rekrutmen:
- ATS Filter: Banyak perusahaan enterprise masih pakai CCNA sebagai keyword wajib untuk posisi Network Engineer L1-L2
- Validasi Dasar: Menunjukkan kandidat mau berinvestasi di karir networking, bukan sekadar coba-coba
- Budget Training: Perusahaan dengan infrastruktur Cisco cenderung lebih mudah mengirim CCNA holder untuk training lanjutan (CCNP, SD-WAN)
Namun, ada batasan. Untuk posisi Network Architect atau Cloud Network Engineer, HR akan lebih lirik sertifikasi seperti AWS Advanced Networking, Azure Network Engineer, atau bahkan CKA (Kubernetes). CCNA di sini jadi nice-to-have, bukan must-have.

Data Nyata: Gaji dan Permintaan di Pasar Indonesia
Mari kita lihat data dari JobStreet dan LinkedIn Jobs pada Q1 2025:
| Posisi | Rata-rata Gaji (Jakarta) | CCNA Requirement | Alternatif Diterima |
|---|---|---|---|
| Network Engineer (0-2 tahun) | IDR 8-12 juta | 60% job posting | JNCIS, CompTIA Network+ |
| Network Engineer (3-5 tahun) | IDR 15-22 juta | 40% job posting (tetapi preferred) | CCNP, AWS Certified SysOps |
| DevOps Engineer dengan skill jaringan | IDR 20-30 juta | 15% job posting | CKA, Terraform, Python |
Kesimpulan data: CCNA masih dominan untuk entry-level, tetapi mulai kehilangan daya tarik untuk posisi mid-to-senior yang lebih spesialis.
Kelebihan dan Kekurangan Realistis di 2025
Kelebihan:
- Fondasi Universal: Konsep subnetting, routing, dan VLAN tidak pernah usang, hanya implementasinya yang berubah
- Brand Recognition: Cisco masih vendor enterprise nomor satu secara global, terutama di Indonesia
- Ekosistem Lengkap: Banyak lab gratis (Cisco Packet Tracer, EVE-NG) dan komunitas besar untuk belajar
- Gateway ke Spesialisasi: Tanpa CCNA yang kuat, CCNP atau CCIE akan terasa seperti membangun rumah di atas pasir
Kekurangan:
- Vendor Lock-in Persepsi: Banyak startup dan perusahaan cloud-native lebih suka skill multi-vendor atau open-source
- Bukan Jaminan Gaji Tinggi: CCNA tanpa pengalaman hands-on tidak otomatis = gaji di atas UMR
- Biaya Tidak Murah: Biaya ujian USD 300 + materi belajar bisa mencapai IDR 5-7 juta kalau ambil bootcamp
- Skill Gap: Materi CCNA masih banyak fokus pada CLI tradisional, sementara industri bergerak ke IaC dan API-driven
Alternatif dan Kombinasi yang Lebih Powerful
CCNA saja mungkin kurang. Kombinasi ini lebih relevan di 2025:
Untuk Cloud Network Engineer: CCNA + AWS Certified Solutions Architect Associate + Terraform
Untuk DevOps/NetDevOps: CCNA + Python (automation) + Ansible + Docker
Untuk Security: CCNA + Security+ + Penetration Testing (OSCP)
Seorang teman di unicorn Jakarta berhasil pivot dari network engineer tradisional ke cloud network architect dalam 18 bulan dengan pola: CCNA (fondasi) → AWS Solutions Architect (cloud) → Belajar Terraform (IaC) → Praktek di proyek internal. Dia bilang, “CCNA bikin saya paham VPC routing di AWS dalam 2 minggu. Tanpa itu, mungkin 2 bulan.”
Kapan CCNA Masih Layak Dikejar? Kapan Tidak?
Mari kita jujur dengan kriteria spesifik.
CCNA MASIH WORTH IT jika:
- Anda benar-benar pemula di networking dan butuh fondasi kuat
- Target Anda perusahaan enterprise (bank, telco, manufaktur) yang masih pakai Cisco
- Anda ingin transisi karir dari IT support/non-teknis ke network engineer
- Perusahaan Anda bayar sertifikasi dan butuhnya untuk partnership Cisco
CCNA KURANG WORTH IT jika:
- Anda sudah 2+ tahun pengalaman hands-on dan punya portofolio project (langsung ke CCNP atau spesialisasi cloud)
- Karir target Anda startup cloud-native atau hyperscaler (AWS, Azure, GCP)
- Anda hanya cari sertifikasi cepat tanpa mau belajar konsepnya dalam-dalam
- Budget Anda sangat terbatas—lebih baik investasi di laptop yang kuat untuk lab dan belajar gratis (Python, Linux)
Tips Maksimalkan Nilai CCNA di 2025
Jika Anda memutuskan CCNA, jangan jadikan ini sekadar koleksi. Ini strategi agar ROI-nya maksimal:
- Lab, Lab, Lab: Jangan cukup dengan Packet Tracer. Pakai EVE-NG atau GNS3, koneksikan ke VM Linux/Windows, simulasikan masalah nyata
- Dokumentasi Publik: Buat blog atau GitHub repo dokumentasi lab Anda. Ini portofolio Anda
- Belajar Automation Sekarang: Saat belajar OSPF, otomatisasikan dengan Ansible. Saat belajar VLAN, deploy dengan Python netmiko
- English: 80% materi CCNA terbaik dalam bahasa Inggris. Kuasai istilah teknisnya
- Network dengan Tujuan: Bergabung di komunitas IDNetworkers atau Cisco NetAcad alumni. Bukan untuk ngobrol, tapi untuk cari mentor dan info lowongan
Warning: Jangan pernah belajar dari “exam dump”. Bukan hanya soal etika, tapi skill Anda nanti akan terlihat sangat lemah di interview teknikal. Di 2025, interviewer sudah sangat pandai mencium kandidat yang “hafal” vs “paham”.
Kesimpulan: Sertifikasi yang Tepat untuk Orang yang Tepat
CCNA di 2025 bukan lagi sertifikasi yang menjamin gaji tinggi atau karir cemerlang secara otomatis. Tetapi, ia juga bukan sertifikasi mati. Nilainya ada di intersection antara skill foundational yang solid dan kemampuan Anda mengadaptasikannya ke konteks modern.
Jika Anda pemula yang serius ingin masuk dunia networking, CCNA masih memberikan bang for the buck terbaik. Jika Anda veteran yang sudah nyaman dengan CLI Cisco, mungkin waktunya investasi di spesialisasi cloud atau automation.
Yang terpenting: sertifikasi hanya mempercepat, tidak menggantikan pengalaman dan pembuatan portofolio. Di era TikTok dan instant gratification, networking tetap butuh jam terbang dan troubleshooting nyata. CCNA hanya membuka pintu. Anda yang harus berjalan masuk dan membangun rumah itu.